home webmail download sitemap
ProfilKegiatanPeraturan & ArtikelKeanggotaanBuletin & NewsletterInternasional
 
   Menu Utama
Home
Rubrik
Contact Us
Download
Daftar Anggota GAPMMI 2014
Organisasi GAPMMI

   Rubrik
Berita KADIN Indonesia
Berita BPOM
Berita PERDAGANGAN
Berita PERINDUSTRIAN
Berita PERTANIAN
Bisnis & Keuangan
Berita Codex Indonesia

   Artikel Terakhir
Jakarta International Food Expo (JIFEX) 2017, 10 - 12 Agustus 2017, Jakarta Convention Center
EXPO CLEAN 2017
HVACR / PS Southeast Asia 2016
Member Gathering GAPMMI, 23 September 2016
Vitafoods Asia 2016

   Social Networking

   Advertising


Buku Direktori GAPMMI 2012/2013

   Statistik Situs
  Visitor : 2822724 visitors
  Hits : 23867554 hits
  Online : 15 users

   


Perdagangan Produk Industri Alami Defisit
Selasa, 20 Maret 12 - oleh : admin

BANDUNG - Kinerja perdagangan produk industri Indonesia dalam keadaan mengkhawatirkan. Tren perdagangan produk industri nasional dalam beberapa tahun terakhir justru defisit.

Dirjen Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Agus Tjahajana Wirakusumah, mengungkapkan Indonesia mengalami kerugian yang semakin besar terhadap negara mitra dagang utama.

"Kita harus jeli melihat kinerja ekspor. Ekspor kita besar, tapi eks-por produk industri masih defisit," ujar Agus di Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu. Agus mengatakan Indonesia termasuk lemah pada industri barang modal termasuk barang konsumsi. Padahal, industri ini yang akan menjadi tumpuan kemandirian Indonesia pada masa akan datang.

Dengan Jepang, pertumbuhan impor Indonesia mencapai 31,2
persen dari tahun 2008-2011. Pertumbuhan ekspor Indonesia hanya 7,07 persen. Perdagangan Indonesia dan Cina mengalami kerugian yang semakin besar. Sejak tahun 2007 hingga 2011, pertumbuhan ekspor Indonesia hanya mencapai 19,6 persen.

Padahal, produk impor dari Cina di Indonesia mencapai pertumbuhan 35,2 persen. Secara umum, pertumbuhan ekspor Indonesia ke negara ASEAN hanya 16 -person. Sebaliknya, pertumbuhan impor barang industri dari negara ASEAN mencapai 29,7 persen.

Tarif bea masuk (BM) yang terlalu rendah dinilai menjadi salah satu sebab defisitnya kinerja ekspor Impor. Agus mengungkapkan, tarif BM Indonesia sebesar rata-rata 6,8 persen untuk produk manufaktur termasuk sangat liberal. Padahal, produk domestik bruto per kapita Indonesia hanya 2.974 dolar AS pada2010.

Posisi BM Indoesia dikatakan Agus sangat liberal dibandingkan dengan negara maju lain, seperti Brazil, India, dan Korea Selatan. Brazil yang memiliki pendapatan per kapita 10.816 dolar AS di tahun 2010 menerapkan BM sebesar 13,70 persen. Pendapatan Korea mencapai 20.756 dolar AS pada 2010, tarif BM mencapai 12,10 persen. Cina menerapkan tarif BM 9,6 persen dengan pendapatan per kapita 4.382 dolar AS.

"Untuk produk pertanian, bea masuk kita bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan Amerika. Apakah daya saing Indonesia sudah sekuat itu?" ujar Agus. Agus mengungkapkan daya saing Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara yang menerapkan . tarif BM lebih tinggi. Irideks daya saing Indonesia masih berada di bawah Cina. Cina memiliki indeks daya saing 4,9 sedangkan Indonesia 4,38

sumber : Republika

  kirim ke teman |   versi cetak


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar

 
   
   Pencarian

cari di  
 

   Kalender

   Ketua Umum


Adhi S. Lukman

   Quote of the day
"Food probably has a very great influence on the condition of men. Wine exercises a more visible influence, food does it more slowly but perhaps just as surely. Who knows if a well-prepared soup was not responsible for the pneumatic pump or a poor one for a war?"
Georg C. Lichtenberg (1742-1799) German scientist, satirist and anglophile.

   Event

International Indonesia Seafood & Meat Expo 2019, 9-11 October 2019, JIExpo Kemayoran


FoodTech Internatonal, 9-11 October 2019, JIExpo Kemayoran


   Media Partner

Food Review Indonesia

   Afiliasi

Food Industry Asia

 

Copyright © 2010 Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia.
All Rights Reserved.