home webmail download sitemap
ProfilKegiatanPeraturan & ArtikelKeanggotaanBuletin & NewsletterInternasional
 
   Menu Utama
Home
Rubrik
Contact Us
Download
Daftar Anggota GAPMMI 2014
Organisasi GAPMMI

   Rubrik
Berita KADIN Indonesia
Berita BPOM
Berita PERDAGANGAN
Berita PERINDUSTRIAN
Berita PERTANIAN
Bisnis & Keuangan
Berita Codex Indonesia

   Artikel Terakhir
HVACR / PS Southeast Asia 2016
Member Gathering GAPMMI, 23 September 2016
Vitafoods Asia 2016
Expo Clean dan Expo Laundry 2016
Member Gathering GAPMMI - Bogor, 28 Januari 2016

   Social Networking
Find us on

   Advertising


Buku Direktori GAPMMI 2012/2013

   Statistik Situs
  Visitor : 2458485 visitors
  Hits : 23009852 hits
  Online : 7 users

   


Indonesia Tuan Rumah Sidang ke-17 FAO/WHO Regional Coordinating Committe for Asia
Jumat, 17 Desember 10 - oleh : admin


JAKARTA -Sidang ke-17 FAO/WHO Regional Coordinating Committee for Asia (CCASIA) diselenggarakan di Hotel Kuta Paradiso, Denpasar, Bali tanggal 22 26 November 2010. CCASIA sebagai salah satu Regional Coordinating Committee di bawah sistem Codex, memainkan peran yang sangat penting dalam memastikan kerja Komite dalam menanggapi kepentingan kawasan. Sidang CCASIA dipimpin oleh Kukuh S. Achmad, dari Badan Standardisasi Nasional, Indonesia. Sidang dihadiri oleh lebih dari 130 peserta dari 20 negara ASIA dan beberapa organisasi internasional. Sebelumnya telah dilaksanakan FAO/WHO Regional Worskhop on the Use of Science throughout the Food Chain for Safe Foods tanggal 18 - 20 November 2010 di tempat yang sama. Acara ini ssebelumnya direncanakan akan diselenggarakan di Yogyakarta, namun karena adanya musibah meletusnya gunung Merapi sehingga tidak memungkinkan diselenggarakan di Yogyakarta dan atas kesepakatan dengan Sekretariat Codex diputuskan untuk dipindah ke Bali.

Sidang ini dibuka oleh Wakil Menteri Pertanian, Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa Indonesia seperti Negara lainnya di ASIA memiliki kontribusi yang besar dalam perdagangan internasional dibidang pangan. Selain itu, Wakil Menteri menyampaikan sedikitnya lima tantangan yang akan dihadapi saat ini yang pertama yaitu produk makanan dan ingredient baru selalu bermunculan di pasar internasional, sedangkan proses perumusan standar memerlukan waktu yang relative cukup lama. Kedua, Standar yang dihasilkan harus dapat diterapkan oleh stakeholder. Selain itu perlu ada keseimbangan antara standard an kemampuan pihak yang menerapkan. Ketiga, dalam kasus tertentu standar berpotensi untuk digunakan sebagai unfair barrier to trade. Keempat, Dinamika dan perubahan dunia, seperti climate change, memiliki pengaruh yang besar terhadap perumusan standar. Kelima, khusus untuk CCASIA, negara-negara ASIA memiliki kondisi yang beragam, sehingga memerlukan cara yang khas Asia untuk menyelesaikan permasalahan standar yang mempengaruhi Negara-negara di kawasan ASIA.

Pada kesempatan sidang ke-17 FAO/WHO Regional Coordinating Committee for ASIA, Wakil Menteri Pertanian juga menekankan bahwa Pemerintah Indonesia mengusulkan standar tepung sagu menjadi standar regional ASIA yang saat ini masih berada pada tahap ke-5 dalam tahapan penyusunan standar Codex. Selain itu juga mengharapkan kerjasama yang lebih erat dalam berkomunikasi ditingkat para tenaga ahli di kawasan ASIA.

Dr. Bambang Setiadi, Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang juga sebagai Ketua Panitia Nasional Codex Indonesia menyampaikan sambutan pembukaan dan menyampaikan bahwa merupakan kali kedua bagi Indonesia menjadi Koordinator Regional ASIA. Kepala BSN menyadari bahwa saat ini telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam produksi makanan di kawasan ASIA belakangan ini yang membuat kebutuhan untuk memproduksi makanan yang aman dan kualitas menjadi semakin penting. Selain itu juga telah menyadari pentingnya Codex dalam melindungi kesehatan konsumen dan memastikan praktek yang adil dalam perdagangan makanan. Oleh karena itu kedepannya efektivitas partisipasi Indonesia khususnya Kementerian terkait dan BSN dalam pengembangan standar Codex perlu lebih ditingkatkan. Selanjutnya Bambang Setiadi menekankan peranan Indonesia sangat penting karena memiliki beberapa komoditas yang berasal dari ASIA untuk dipertimbangkan, termasuk usulan untuk new work standard yaitu tempe, durian, laver products dan preserved yuza.

Maraknya perdagangan bebas saat ini menyebabkan banyaknya pertukaran barang antar Negara yang dikhawatirkan tidak memenuhi standar keamanan pangan. Pemerintah harus dapat menjamin bahwa seluruh produk yang diperdagangan di pasar harus aman dan bermutu baik. Keterlibatan di forum Codex akan membantu meningkatkan awareness seluruh pemangku kepentingan akan pentingnya keamanan dan mutu pangan.

Download:

  • Report of The 27th Session of The FAO/WHO Coordinating Committe for Asia
  • Provisional Agenda CCASIA

    Sumber: Codex Indonesia

      kirim ke teman |   versi cetak


    Tidak ada komentar tentang artikel ini.

    Formulir Komentar | Aturan >>

    Nama
    Email
    Judul Komentar
    Komentar

     
  •    
       Pencarian

    cari di  
     

       Kalender

       Ketua Umum


    Adhi S. Lukman

       Quote of the day
    "Food probably has a very great influence on the condition of men. Wine exercises a more visible influence, food does it more slowly but perhaps just as surely. Who knows if a well-prepared soup was not responsible for the pneumatic pump or a poor one for a war?"
    Georg C. Lichtenberg (1742-1799) German scientist, satirist and anglophile.

       Event

    The 7th nutraceutical event for Asia, 5-6 September'17, Sands Expo & Convention Centre at Marina Bay Sands Singapore


    JIFEX, 10-12 Aug'17, Jakarta Convention Center (JCC)


       Media Partner

    Food Review Indonesia

       Afiliasi

    PIPIMM

    Food Industry Asia

     

    Copyright © 2010 Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia.
    All Rights Reserved.