GAPMMI - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia
Rubrik : Berita PERINDUSTRIAN
Perdagangan Produk Industri Alami Defisit
Selasa, 20 Maret 12 - by : admin
BANDUNG - Kinerja perdagangan produk industri Indonesia dalam keadaan mengkhawatirkan. Tren perdagangan produk industri nasional dalam beberapa tahun terakhir justru defisit.

Dirjen Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Agus Tjahajana Wirakusumah, mengungkapkan Indonesia mengalami kerugian yang semakin besar terhadap negara mitra dagang utama.

"Kita harus jeli melihat kinerja ekspor. Ekspor kita besar, tapi eks-por produk industri masih defisit," ujar Agus di Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu. Agus mengatakan Indonesia termasuk lemah pada industri barang modal termasuk barang konsumsi. Padahal, industri ini yang akan menjadi tumpuan kemandirian Indonesia pada masa akan datang.

Dengan Jepang, pertumbuhan impor Indonesia mencapai 31,2
persen dari tahun 2008-2011. Pertumbuhan ekspor Indonesia hanya 7,07 persen. Perdagangan Indonesia dan Cina mengalami kerugian yang semakin besar. Sejak tahun 2007 hingga 2011, pertumbuhan ekspor Indonesia hanya mencapai 19,6 persen.

Padahal, produk impor dari Cina di Indonesia mencapai pertumbuhan 35,2 persen. Secara umum, pertumbuhan ekspor Indonesia ke negara ASEAN hanya 16 -person. Sebaliknya, pertumbuhan impor barang industri dari negara ASEAN mencapai 29,7 persen.

Tarif bea masuk (BM) yang terlalu rendah dinilai menjadi salah satu sebab defisitnya kinerja ekspor Impor. Agus mengungkapkan, tarif BM Indonesia sebesar rata-rata 6,8 persen untuk produk manufaktur termasuk sangat liberal. Padahal, produk domestik bruto per kapita Indonesia hanya 2.974 dolar AS pada2010.

Posisi BM Indoesia dikatakan Agus sangat liberal dibandingkan dengan negara maju lain, seperti Brazil, India, dan Korea Selatan. Brazil yang memiliki pendapatan per kapita 10.816 dolar AS di tahun 2010 menerapkan BM sebesar 13,70 persen. Pendapatan Korea mencapai 20.756 dolar AS pada 2010, tarif BM mencapai 12,10 persen. Cina menerapkan tarif BM 9,6 persen dengan pendapatan per kapita 4.382 dolar AS.

"Untuk produk pertanian, bea masuk kita bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan Amerika. Apakah daya saing Indonesia sudah sekuat itu?" ujar Agus. Agus mengungkapkan daya saing Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara yang menerapkan . tarif BM lebih tinggi. Irideks daya saing Indonesia masih berada di bawah Cina. Cina memiliki indeks daya saing 4,9 sedangkan Indonesia 4,38

sumber : Republika
GAPMMI - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia : http://www.gapmmi.or.id
Versi Online : http://www.gapmmi.or.id/?pilih=lihat&id=13415