GAPMMI - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia
Rubrik : Berita PERINDUSTRIAN
Defisit Perdagangan Produk Industri Terus Membesar
Selasa, 20 Maret 12 - by : admin
BANDUNG - Neraca perdagangan (perbandingan ekspor dan impor) produk industri Indonesia menunjukkan posisi defisit yang terus membesar.

Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Agus Tjahajana mengatakan, penyumbang defisit terbesar dari industri barang modal dan produk konsumsi, misalnya neraca perdagangan produk industri Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel). Pada periode 2007-2011, pertumbuhan ekspor produk Indonesia ke Korsel sebesar 14,9 persen.

Namun, impor meningkat 39 persen, sedangkan dengan China untuk periode yang sama, pertumbuhan ekspor hanya 19,6 persen, tetapi impornya tumbuh 35,2 persen. Selanjutnya, dengan Jepang pertumbuhan ekspor hanya 7,1 persen, tetapi impor naik 31,3 persen.

"Sementara dengan negara-negara di ASEAN, pertumbuhan ekspor hanya 16 persen, sedangkan pertumbuhan impor mencapai 29,7 persen," kata Agus pada acara workshop Pendalaman Kebijakan Industri di Bandung, akhir pekan lalu.

Menurut dia, kondisi ini perlu diwaspadai mengingat Indonesia tidak mungkin membuka akses pasar seluas-luasnya, terutama barang modal dan komponen serta produk konsumsi. Apalagi produk-produk ini akan menjadi tumpuan kemandirian negara di masa mendatang.

Dalam hal ini, Indonesia lebih baik mendorong kinerja industri serupa di dalam negeri. Kondisinya juga akan diperparah mengingat sejumlah negara menjadikan Indonesia sebagai pasar. Dampak krisis yang dialami Amerika Serikat dan Eropa akan mendorong negara-negara produsen berusaha meningkatkan akses pasar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

"Selain itu, dalam usaha meningkatkan pertumbuhan ekonominya, mereka juga mengajak negara berkembang yang ekonominya lebih kuat melakukan liberalisasi, di antaranya melalui skema kawasan perdagangan bebas secara bilateral, regional, maupun multilateral. Negara maju kerap memasukkan isu berdalih lingkungan, meski sebenarnya isunya terkait pembukaan akses pasar," tutur Agus.

Terkait hal ini, Indonesia tidak akan begitu saja mengikuti skema perjanjian perdagangan bebas. Dalam hal ini, Indonesia harus mempelajari manfaat dan dampak yang ditimbulkan dari kerja sama perdagangan yang ditandatangani.

Saat ini, rata-rata tarif bea masuk (BM) produk impor ke Indonesia berada dik isaran 6,8 persen atau paling liberal dibanding negara lain.

"Negara maju yang memiliki perekonomian lebih kuat malah memiliki rata-rata tarif bea masuk terhadap produk inmpor lebih tinggi dibanding Indonesia. Contohnya rata-rata tarif bea masuk di Korsel sebesar 12,1 persen, Brasil 13,7 persen, China 9,1 persen, dan India 13 persen," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Benny Wachjudi mengatakan, defisit perdagangan produk industri makanan dan minuman sepanjang 2011 lalu menembus angka 2,34 miliar dolar AS. Ini merupakan rekor terbesar dalam tujuh tahun terakhir (2005-2011), di mana tren peningkatan impor rata-rata per tahun mencapai 16,1 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2005-2011, neraca perdagangan produk makanan dan minuman terus mengalami defisit. Jika 2005, total ekspor produk makanan dan minuman Indonesia sebesar 1,13 miliar dolar AS, namun impornya mencapai 1,91 miliar dolar AS atau defisit 775 juta dolar AS. Sementara pada 2006, ekspor sebesar 1,44 miliar dolar AS, tetapi impornya 2,17 dolar AS atau defisit 738 juta dolar AS.

Selanjutnya setelah terus meningkat pada 2007-2009, pada 2010 ekspor produk makanan/minuman sebesar 3,21, impor dolar AS, namun impor 4,51 miliar dolar AS atau defisit 1,29 miliar dolar AS. Selanjutnya, pada 2011, ekspor sebesar 4,5 miliar dolar AS dengan impor mencapai 6,85 miliar dolar AS atau defisit 2,34 miliar dolar AS.

Produk makanan dan minuman yang selama ini banyak diimpor, di antaranya gula, susu dan produk dari susu, tepung terigu, coklat olahan, minyak nabati, limun, serta kopi instan.

"Di luar minyak goreng dari sawit, neraca perdagangan produk makanan dan minuman kita selalu defisit. Persoalan ini menjadi perhatian Kemenperin untuk terus melakukan pengembangan industri makanan dan minuman agar bisa bersaing di pasar dalam dan luar negeri," kata Benny.

Menurut Benny, Kemenperin menerapkan beberapa strategi untuk menekann angka impor serta mendongkrak ekspor produk makanan dan minuman. Pemerintah mendorong pelaku industri untuk memanfaatkan sumber pangan lokal sebagai substitusi impor. Selain itu juga terus memperkuat citra merek-merek asli Indonesia.

"Pemerintah juga terus memperketat pengawasan terhadap produk impor yang tidak sesuai dengan standar serta yang tidak menggunakan lebel bahasa Indonesia agar tidak bisa masuk ke pasar lokal," ucapnya.

sumber : Suara Karya
GAPMMI - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia : http://www.gapmmi.or.id
Versi Online : http://www.gapmmi.or.id/?pilih=lihat&id=13416