GAPMMI - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia
Rubrik : Berita PERINDUSTRIAN
Pertumbuhan Industri 2011 Lampaui Pertumbuhan Ekonomi
Selasa, 20 Maret 12 - by : admin
JAKARTA - Pertumbuhan sektor industri pengolahan non-migas sepanjang 2011 meningkat sekitar 6,83% dari tahun sebelumnya. Hal itu disampaikan Menteri Perindustrian MS Hidayat ketika membuka Rapat Kerja Kementrian Perindustrian dengan Pemerintah Daerah di Jakarta, Jumat (2/3).

Menurut menperin, pertumbuhan ekonomi pada tahun yang sama hanya tumbuh sebesar 6,46%. “Ini adalah hasil yang membanggakan, di mana pertama kali sejak tahun 2005 pertumbuhan sektor industri non-migas bisa kembali melampaui pertumbuhan ekonomi,” ujar menperin dalam Raker yang bertema "Akselerasi Industrialisasi Dalam Rangka Mendukung Percepatan Pembangunan Ekonomi" tersebut.

Kepada Wakil Menteri Perindustrian, para pejabat Eselon I dan II di lingkup kerja Kementerian Perindustrian,serta para Kepala Dinas Perindag dan Bappeda Provinsi yang hadir, Menperin lebih jauh menyampaikan laju pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan industri non-migas pada tahun 2010 yang hanya 5,12%. “Dan ini merupakan pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2005,”lanjutnya. Kontribusi sektor industri pengolahan non-migas terhadap total Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 20,92%.”Merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya,” sambungnya.

Seluruh cabang industri non-migas tahun 2011 mengalami pertumbuhan positif. “Industri Logam Dasar Besi & Baja yang selama 6 tahun terakhir selalu tumbuh di bawah 5% kini mampu tumbuh sebesar 13,06%. Industri Makanan, Minuman & Tembakau tumbuh sebesar 9,19%, setelah tahun sebelumnya hanya tumbuh 2,78%. Industri Tekstil, Barang Kulit & Alas Kaki mampu tumbuh sebesar 7,52%, meningkat secara tajam dimana sejak 2005 terus mengalami guncangan akibat menurunnya permintaan ekspor & maraknya produk impor, sehingga pertumbuhannya hanya kurang dari 2%,”.

Sementara itu, ekspor industri pengolahan non-migas sepanjang tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar 24,66%, dengan nilai ekspor mencapai US$ 122,19 miliar, dan memberikan kontribusi sebesar 60,01% terhadap total ekspor nasional. Neraca ekspor positif tertinggi sepanjang tahun 2011 dicapai oleh ekspor produk Tekstil sebesar US$ 6,50 miliar dan ekspor produk Pengolahan Tembaga, Timah, dll sebesar US$ 5,30 miliar.

Kinerja investasi sektor industri pun pada tahun 2011 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Nilai investasi PMDN sektor industri sepanjang tahun 2011 mencapai
Rp 39,05 triliun, atau meningkat sebesar 52,5% dibandingkan tahun sebelumnya; sedangkan nilai investasi PMA sektor industri mencapai US$ 6,78 miliar, atau meningkat sebesar 101,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Hasil positif kinerja industri tersebut merupakan prestasi bersama bangsa Indonesia, yang dapat dicapai karena adanya sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan stakeholder terkait lainnya dalam rangka pengembangan industri nasional, baik di tingkat pusat maupun daerah. Kinerja positif tersebut juga harus kita manfaatkan sebagai modal yang kuat dalam mendorong pertumbuhan industri yang lebih tinggi lagi pada tahun-tahun yang akan datang,” tegas Menperin.

Lima strategi utama

Sejalan dengan prinsip percepatan & perluasan pembangunan ekonomi yaitu bekerja secara “not business as usual”, menperin menyatakan bahwa percepatan pembangunan sektor industri sangat dibutuhkan,. Percepatan yang disebut sebagai “Akselerasi Industrialisasi 2012-2014” ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan sektor industri sebagai katalis utama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Upaya percepatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi berbagai potensi kekuatan dan hambatan, menentukan strategi pokok akselerasi industri, menetapkan fokus akselerasi industri pada kelompok industri prioritas tertentu, membuat rencana aksi (action plan) inisiatif stratejik sesuai fokus akselerasi dimaksud, serta menentukan kebijakan afirmatif untuk mendukung pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM),”.

Akselerasi Industrialisasi ini dilaksanakan melalui lima strategi utama. Strategi pertama, dengan mendorong partisipasi dunia usaha dalam pembangunan infrastruktur, Kedua, dengan percepatan proses pengambilan keputusan untuk menyelesaikan hambatan birokrasi (Debottlenecking). Yang ketiga dengan melakukan reorientasi kebijakan ekspor bahan mentah dan sumber energi, lalu diikuti dengan mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing. Serta yang terakhir dengan meningkatkan integrasi pasar domestik.

Pada tahap pelaksanaannya, kelima strategi utama di atas dijalankan melalui penerapan pada enam area kebijakan, yaitu: kebijakan pengamanan industri dalam negeri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pelayanan birokrasi, penyempurnaan dan harmonisasi regulasi, kebijakan fiscal, serta pembangunan SDM Industri.

Untuk lebih mengoptimalkan potensi sektor industri nasional, akselerasi industrialisasi akan difokuskan pada 15 subsektor industri, yang dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) kelompok industri prioritas, yakni yang berbasis hasil tambang, berbasis hasil pertanian dan berbasis Sumber Daya Manusia dan Pasar Domestik.

Raker ini diharapkan dapat melakukan sinkronisasi program kerja dan kebijakan percepatan pembangunan industri nasional. “Demi kemajuan industri dan pembangunan ekonomi nasional, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Sumber: Kementerian Perindustrian
GAPMMI - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia : http://www.gapmmi.or.id
Versi Online : http://www.gapmmi.or.id/?pilih=lihat&id=13417